PEKANBARU - Dinas Perternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Provinsi Riau telah melakukan tindakan pengobatan terhadap sapi-sapi yang terpapar Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) hewan ternak. 

Di Provinsi Riau sendiri sudah 60 ekor sapi yang terjangkit PMK tersebar di lima daerah, yakni Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Indragiri Hilir (Inhil) dan Siak. Terbaru menyusul Kabupaten Bengkalis dan Kampar. 

Kepala Dinas PKH Provinsi Riau, Herman mengatakan, jika tim dokter hewan provinsi dan kabupaten sudah melakukan tindakan pengobatan sapi yang terpapar PMK. 

"Penanganan untuk ternak yang sakit PMK, petugas kesehatan hewan di kabupaten sudah memberikan pengobatan suportif dan penanganan infeksi sekunder. Seperti memberi vitamin, antibiotik, dan desinfeksi kandang ternak," kata Herman didampingi Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Faralinda Sari, Jumat (10/6/2022). 

Selain pengobatan, lanjut Herman, petugas juga sudah melakukan isolasi hewan ternak yang sakit, agar tidak menular ke ternak lainnya. 

"Kemudian petugas juga melakukan komunikasi, informasi dan edukasi ke peternak, pengurus desa, dan masyarakat sekitar. Lalu, dilakukan surveilans, pengamatan ke ternak di sekitar kejadian kasus, apakah sudah ada ternak lain yang memiliki gejala yang sama," terangnya. 

Lebih lanjut Herman menjelaskan, dari tindakan yang dilakukan petugas terhadap sapi PMK, kondisi sapi perkembangannya membaik. 

"Tapi belum sembuh total, tapi progresnya membaik. Karena sejauh ini belum kita temukan sapi yang terpapar PMK kondisi parah," ujarnya.

Herman mengakui, memang untuk tingkat penularan PMK hewan ternak ini cukup cepat dibandingkan dengan Lumpy Skin Disease (LSD), karena penularannya lewat angin. 

"Meski tingkat penularannya cepat, tapi untuk tingkat kematian sapi akibat PMK ini sangat rendah, 100 sapi maksimal tingkat kematian sekitar 5-10 ekor. Namun untuk di Riau sejauh ini belum ada kasus sapi mati mendadak akibat PMK," tukasnya. 



(Mediacenter Riau/amn)