PEKANBARU - Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Riau, Decymus menyampaikan bahwa selain menipiskan kesenjangan sosial, pengembangan ekonomi kreatif (ekraf) juga dapat menjadi salah satu penyangga perekonomian.

Ia menjelaskan, hasil penelitian menyebutkan bahwa pengembangan inovasi ekonomi kreatif itu akan mendorong untuk menurunkan kesenjangan. Selain itu, perkembangan ekraf ini juga berfungsi mendukung transformasi ekonomi, sosial masyarakat, serta pengembangan SDM.

"Untuk itu Ekraf ini perlu kita dorong," katanya, dalam acara Indonesia Creative Cities Conference di Hotel Pangeran Pekanbaru, Sabtu (27/11/21).

Decymus mengatakan, transformasi struktur perekonomian sangat relevan bagi perekonomian Riau. Hal ini mengingat perekonomian Riau masih terkonsentrasi pada sektor-sektor berbasis Sumber Daya Alam (SDA) dengan kecenderungan tingkat pertumbuhan yang rendah. 

Untuk itu menurutnya, kondisi itu menuntut pengembangan sektor industri termasuk industri kreatif di Provinsi Riau. Dan hal itu sejalan pula dengan semangat pemerintah daerah, untuk melakukan hilirisasi pengembangan industri di Riau.

"BI bersinergi dengan berbagai pemangku kepentingan mendorong pemerataan ekonomi melalui digitalisasi perekonomian dan pengembangan UMKM. Kalau kita bicara UMKM, itu sudah termasuk di dalam pesantren dan ekraf," ungkapnya.

Ia menyebutkan, secara umum UMKM di Riau masih mengalami hambatan terkait dengan kelembagaan atau korporatisasi, permodalan dan pembiayaan. Sehingga pada saat permintaan meningkat, seringkali UMKM tidak mampu merespon secara optimal.

"Kapasitas terbatas membuat UMKM itu sulit menghadapi ketidakpastian. Seperti kasus pada waktu pandemi, tidak kurang dari 60% UMKM di Riau itu terdampak COVID-19 yang penjualannya turun hingga 50%," ujarnya.

Kepala Perwakilan BI Riau mengungkapkan, pengembangan UMKM pesantren dan ekonomi kreatif dilakukan oleh BI secara end-to-end dan diarahkan menghasilkan produk komoditas unggulan yang dapat memenuhi kebutuhan pasar domestik dan global.

Menurutnya, hal ini bertujuan untuk mengangkat UMKM secara keseluruhan. Khususnya usaha mikro subsisten dan kecil, agar bisa naik kelas menjadi usaha yang lebih besar sehingga dapat menyumbang lebih besar untuk PDB saat ini.

"Sebagai wujud nyata, BI menyelenggarakan berbagai event yang mendukung pengembangan ekonomi kreatif. seperti karya kreatif Indonesia, festival ekonomi syariah dan festival ekonomi dan keuangan digital Indonesia. Itu semuanya adalah untuk menciptakan ekosistem industri kreatif mulai dari hulu hingga hilir," ucapnya.

Decymus menerangkan, BI juga melakukan sinergi dengan berbagai instansi dalam mengembangkan UMKM kreatif di Provinsi Riau. Terutama dalam korporatisasi kelembagaan dan digitalisasi.

Untuk itu sebutnya, BI konsisten melakukan capacity building UMKM. Dalam hal ini produksi dan usaha peningkatan produksi usaha, SDM dan pemasaran serta penguatan ke akses pembiayaan biar layak dibiayai oleh bank. Selanjutnya, BI juga mendorong melakukan hubungan bisnis yang saling membeli antar UMKM, pesantren dan ekonomi kreatif, supaya terbentuk ekonomi lokal yang kuat dan sustainable.

"Digitalisasi merupakan kunci penting dalam upaya meningkatkan ekonomi, sehingga pelaku usaha ekonomi kreatif diarahkan produksi secara efisien dan efektif. Kita arahkan mereka digital, baik di hulu maupun di hilir. Untuk pembayaran kita arahkan untuk platform e-commerce dan pembayaran transaksi digital melalui QRIS," tutupnya.



(Mediacenter Riau/ip)