PEKANBARU - Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Riau, Decymus menyebutkan bahwa berdasarkan data Badan Ekonomi Kreatif dan Badan Pusat Statistik (BPS),  jumlah pelaku ekonomi kreatif (ekraf) di Provinsi Riau itu termasuk yang tertinggi di Sumatera.

Menurutnya, hal ini didasari oleh empat faktor. Yaitu, Riau itu memiliki modal yang potensial untuk mendukung pengembangan ekonomi kreatif, karena Riau itu menjadi target kawasan industri. Untuk mendukung industri besar, pasti membutuhkan dukungan ekraf yang akan banyak arus manusia yang datang ke Riau.

"Untuk terlibat dalam industri itu yang tentunya dalam kehidupan sosial membutuhkan dukungan ekonomi kreatif," katanya dalam acara Indonesia Creative Cities Conference di Hotel Pangeran Pekanbaru, Sabtu (27/11/21).

Decymus mengungkapkan, dasar lainnya adalah karena Riau memiliki sumber daya alam yang melimpah. Oleh karena itu, berbagai bahan baku untuk industri kreatif itu tumbuh subur, baik di darat maupun perairan Riau. Contohnya, seperti kelapa, sagu, kopi, nanas, sawit, udang dan seterusnya.

Selanjutnya, Riau juga memiliki kekhasan budaya yang menjadi modal pengembangan industri fashion dan kriya. Keragaman motif dan warna tenun yang cantik, dapat menjadi daya tarik bagi para penggemar fashion.

Kemudian, Riau dikenal sebagai Homeland of Melayu, sehingga gaya hidup berbasis halal itu sudah menjadi tren sekarang. Hal ini, menurutnya tentu akan mendorong tingginya permintaan terhadap produksi produk industri ekonomi kreatif.

"Terakhir tentunya angkatan kerja di Riau yang berpendidikan tinggi itu support untuk mendukung ekonomi kreatif," jelasnya.

Decymus mengharapkan dengan banyaknya pelaku ekraf di Provinsi Riau ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, serta mampu mendorong meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Provinsi Riau.

"Semoga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat," tutupnya.



(Mediacenter Riau/ip)